Risiko Terbesar Industri Asuransi Indonesia Adalah Peraturan - Pricewaterhouse Coopers (PwC) Indonesia didalam laporan hasil survei terbaru menyebutkan, para eksekutif penggiat asuransi di Indonesia saat ini masih beranggapan peraturan ialah resiko paling besar yg di hadapi sebuah industri asuransi di Tanah Air.
Resiko ini dihadapi setidaknya dalam dua sampai tiga th ke depan. Tidak cuma peraturan, risiko gede lain yg harus dihadapi industri asuransi antara lain keadaan pasar yang stagnan, keadaan makroekonomi, sumber daya manusia serta saluran distribusi.
![]() |
| Risiko Terbesar Industri Asuransi Indonesia Adalah Peraturan |
"Survei ini pun menyoroti, banyak perusahaan yang harus tetap konsisten dalam melakukan pengembangan & memperkuat fungsi manajemen risiko juga taktik mereka buat menghadapi perubahan dalam elemen digitalisasi & efek tehnologi yg amat cepat bergerak dan berubah serta selalu terjadi," kata David Wake, Financial Services Leader PwC Indonesia di dalam sebuah program Indonesia Insurance Executive Forum 2016 di Fairmont Hotel Jakarta.
Menurut para responden, risiko paling besar yg dihadapi industri asuransi Indonesia antara lain peraturan, keadaan pasar, makroekonomi, sumber daya manusia, saluran distribusi, & kinerja investasi.
Risiko lain yaitu tingkat bunga, inovasi product, manajemen perubahan, & bencana alam. Sementara itu, risiko paling besar global dalam industri asuransi yang merupakan perbandingan ialah peraturan, makroekonomi, tingkat bunga, risiko siber, kinerja investasi, & manajemen perubahan.
Resiko yang lain yakni product yg biasa dijaminkan, saluran distribusi, bencana alam, & mutu manajemen resiko.
Resiko Siber
Tetap dgn tren global, ada kekhawatiran yg tinggi tentang peraturan & perkiraan meningkatnya anggaran hukum & kepatuhan.Terutama, responden menyampaikan butuh adanya kejelasan dalam perihal perpajakan. Tetapi, risiko siber tak masuk dalam list 10 risiko paling besar industri asuransi di Indonesia.
Padahal, transformasi digital sedang terjadi di bidang ini, para perusahaan asuransi bisa saja meremehkan tantangan yg mesti dihadapi di hari esok.
Di masa dulu, perusahaan asuransi tak menghadapi serangan siber sejumlah perusahaan besar dan terkemuka serta dinas keuangan.
Mungkin Saja terjadinya perubahan dalam metode & memotivasi jalankan serangan sebahagian disebabkan tersangka kriminil siber yg menyadari kerentanan industri asuransi.
"Dan, potensi pencurian identitas pemilik, data pribadi nasabah didalam data asuransi," terang Handikin Setiawan, Cyber Security Director PwC Indonesia di kesempatan yang sama. Sekian artikel mengenai Risiko Terbesar Industri Asuransi Indonesia Adalah Peraturan.
